Hero

Lu Han duduk di sofa, tersenyum sinis mengamati nama yang tertera dalam undangan “Wu Yifan dan Fan Yifei”

Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, kembalinya ia melewati sebuah cermin besar yang terpasang di dinding, ia pun mengamati bayangan yang dipantulkan cermin itu.

Seorang pria berbalut jas hitam rapi dengan rambut yang tersisir ke belakang, itulah dirinya saat ini, tapi entah mengapa ia melihat seorang anak laki-laki yang berpakaian sama dengannya berdiri di sampingnya.

“Maaf aku terlalu lama” kata seorang anak perempuan dengan dress putih dengan lace dibagian lengan dan sekeliling perutnya.

Anak laki-laki itu terdiam menatap gadis di depannya.

“Apa aku terlihat aneh?” tanya gadis itu.

“Tidak, kau cantik sekali” jawab anak laki-laki itu jujur dengan pipi yang bersemu merah.

“Terimakasih, kau juga terlihat…keren, Han” ucap gadis itu.

Lu Han tersenyum mengingat kejadian itu, lalu melirik ke arah jam di dinding, masih satu jam lagi acara akan di mulai. Tiba-tiba ponsel di saku celananya berbunyi, sebuah nama yang dirindukannya tertera di layar ponsel.

“Ada apa?” tanya Lu Han.

“Han! astaga! aku tidak percaya aku akan menikah hari ini! aku gugup sekali!” kata wanita di sebrang sana.

Lu Han hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan wanita itu.

“Han, kau datang kan hari ini?”

“Kau tau kan aku sibuk sekali hari ini” kata Lu Han menahan senyumnya, ia ingin mengerjai wanita itu untuk terakhir kalinya.

“Han! kau harus datang hari ini! titik! kalau kau tidak datang aku tidak mau jadi temanmu lagi!” ancam perempuan itu.

Lu Han terkekeh pelan. “Aku hanya bisa datang sebentar saja” kata Lu Han akhirnya.

“Tidak apa-apa, yang penting kau datang” jawab wanita itu.

“Han” panggil wanita itu tiba-tiba.

“Hmm?”

“Lebih baik kau datang sekarang, temani aku” pintanya.

“Baiklah” Lu Han bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobil, apapun yang diminta wanita itu ia akan selalu memenuhinya.

“Han” panggil gadis itu tiba-tiba, saat anak laki-laki itu mengajaknya pulang bersama untuk pertama kalinya.

“Ada apa?” tanya anak laki-laki itu.

“Mulai sekarang kita jadi sahabat ya?” pinta gadis itu.

Anak laki-laki itu terdiam sebentar, menatap gadis yang sekarang ada di depannya, gadis yang selalu membuatnya tersenyum tulus.

“Tentu saja” anak laki-laki itupun berusaha membuang perasaan yang baru saja mekar di dalam hatinya.

***

Lu Han mengetuk pintu pelan, setelah terdengar suara wanita itu mengizinkannya masuk.

“Yifei” panggil Lu Han dengan senyum di bibirnya, ia masuk sambil membawa karangan bunga di tangannya.

“Han” sapa wanita bernama Yifei itu, ia baru saja selesai di rias.

“Ini untukmu” Lu Han memberikan karangan bunga itu pada Yifei. “Selamat” lanjutnya.

“Terimakasih Han, aku senang kau sempat datang” jawab Yifei.

“Aku benar-benar tidak percaya akan menikah secepat ini, rasanya aku baru saja lulus kuliah kemarin” kata Yifei.

“Ya, aku juga merasakan hal itu” Lu Han bersandar di dinding.

“Aku menunggu giliranmu Han, kapan aku akan diberikan undangan?” goda Yifei.

Lu Han mengangkat bahunya. “Aku tidak tau kapan itu akan terjadi”

“Jangan terlalu pilih-pilih soal wanita, semua manusia pasti ada kekurangannya” saran Yifei.

“Kau mulai berkata bijak, seingatku kau hanya bisa mengeluh saja” canda Lu Han diikuti tawa Yifei yang sangat dirindukan Lu Han.

“Ngomong-ngomong, apa rencanamu Han? apa kau benar-benar tidak akan menjalin hubungan serius diwaktu dekat ini?” tanya Yifei.

Lu Han terdiam, ia tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. “Aku pikir…aku akan fokus pada karirku ini” jawabnya akhirnya.

Yifei tersenyum lembut. “Kalau kau terlalu fokus pada pekerjaanmu itu, bisa-bisa kau tak akan pernah menikah. Sesekali keluarlah dari aktivitasmu itu”

Tiba-tiba seorang wanita memasuki ruangan. “Apa pengantin perempuan sudah siap?” tanyanya.

“Ya” jawab Yifei.

“Han, sebentar lagi aku akan resmi menikah” kata Yifei bahagia.

Lu Han hanya bisa ikut tersenyum dan mengacungkan kedua ibu jarinya.

“Aku harus pergi sekarang, bukankah kau harus bersiap-siap?” kata Lu Han.

“Ah..iya” jawab Yifei.

Lu Han akhirnya berjalan ke arah pintu keluar dengan senyuman yang sudah hilang jauh dari bibirnya.

“Han” panggil Yifei tiba-tiba, membuat Lu Han spontan menoleh.

“Aku ingin mengatakannya sebelum menikah agar aku bisa merasa lega” kata Yifei.

“Dulu saat kita pulang dari prom, aku sempat menyatakan perasaanku padamu di dalam mobil. Aku menyukaimu saat itu dan sepertinya kau tidak mendengarnya, tapi tenang saja Han, kau tau sendiri sekarang aku mencintai Yifan dan sebentar lagi akan menikah dengannya” lanjut Yifei panjang lebar dengan senyum lebar.

Untuk kesekian kalinya Lu Han hanya bisa terdiam.

“Han?” panggil Yifei mulai khawatir.

Lu Han tiba-tiba tersenyum. “Berbahagialah bersama Yifan” ucapnya lalu keluar dari ruangan.

Seperti katanya sebelumnya, ia hanya bisa datang sebentar. Bahkan ia sudah pergi saat acara baru saja dimulai.

***

Lu Han menginjak pedal gas kencang, air mata terus mengalir melewati pipinya.

“Dulu saat kita pulang dari prom, aku sempat menyatakan perasaanku padamu di dalam mobil. Aku menyukaimu saat itu dan sepertinya kau tidak mendengarnya, tapi tenang saja Han, kau tau sendiri sekarang aku mencintai Yifan dan sebentar lagi akan menikah dengannya”

Ucapan Yifei tadi berhasil menampar Lu Han keras-keras, ia baru sadar kenapa Yifei tak pernah menerima semua laki-laki yang pernah menyatakan perasaan padanya saat SMA, kenapa Yifei terlihat sangat senang saat Lu Han mengajaknya ke prom, dan kenapa cara matanya menatap Lu Han sangat berbeda dengan laki-laki yang lain saat SMA.

Tiba-tiba mobil berhenti dan Lu Han terus memukul setir sambil berteriak dan menangis.

Anak laki-laki itu berdiri menunggu seorang gadis yang biasanya selalu pulang bersamanya.

“Han” panggil gadis itu sambil berlari-lari kecil.

“Maaf lama, aku harus ke perpustakaan untuk mengembalikan buku” jelas gadis itu.

“Tidak apa-apa” jawab anak laki-laki itu, mereka pun mulai berjalan pulang.

“Yifei” panggil anak laki-laki itu di tengah perjalanan.

“Kau mau menjadi pasanganku di prom nanti?” tanya anak laki-laki itu tiba-tiba.

Gadis itu menatap anak laki-laki itu dengan mata membulat.

“Aku kan belum punya pasangan prom dan kau juga belum punya, aku mengajakmu sebagai teman kok” kata anak laki-laki itu buru-buru.

Gadis itu tersenyum. “Tentu saja” Semua orang pasti sadar jika melihat senyum itu, gadis itu kecewa.

Lu Han memukul setir mobil untuk kesekian kalinya, beberapa kali ia juga membanting setir dengan kepalanya sendiri dan berteriak marah, marah karena kebutaannya selama ini.

Andai saja ia tau selama ini! andai saja ia berani menyatakan perasaannya juga.

“Aku akan mengantarmu pulang” kata anak laki-laki itu.

“Terimakasih Han” kata gadis itu.

Mereka masuk ke dalam mobil dan anak laki-laki itu pun menyalakan mesin mobil. Tak disangaka ternyata hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.

“Astaga, hujannya turun deras sekali” kata anak laki-laki itu, ia menyalakan pemanas.

“Han” panggil gadis itu.

“Hmm?” anak laki-laki itu masih sibuk dengan jalan di depannya.

“Aku…aku…sepertinya aku menyukaimu” ucap gadis itu pelan, pipinya bersemu merah.

Suara hujan di luar dan suara alunan musik dari radio memenuhi pendengarannya.

“Han…apa kau mendengarku?” tanya gadis itu akhirnya setelah anak laki-laki itu tak mengatakan apa-apa.

“Maaf aku tidak mendengarmu tadi” anak laki-laki itu mematikan radionya.

“Tadi kau bilang apa?” tanyanya.

“Mmm…tidak, tidak penting” kata gadis itu lalu memandangi pemandangan di luar jendela mobil.

Andai saja Lu Han meminta gadis itu mengatakannya lagi, berusaha agar gadis itu mengatakannya kembali, tidak akan ada akhir seperti ini.

***

Setelah satu bulan setelah pernikahan Yifei, Lu Han akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, China. Dan sama sekali tidak berniat untuk kembali ke Taiwan lagi.

Ia berjalan sambil menarik kopernya, sesekali menoleh kebelakang, ia tidak ingin mengakui jika ia masih memiliki harapan Yifei akan mengejarnya dan memintanya untuk tetap tinggal. Tapi ia ingat, Yifei tidak mungkin melakukannya.

Setelah mengurus bawaannya, ia akhirnya masuk ke dalam pesawat. Tak berapa lama setelah ia duduk di kursinya, suara pramugari dari pengeras suara meminta semua penumpang untuk mematikan ponsel mereka. Lu Han mengambil ponsel dari sakunya dan mematikan ponsel itu, tapi sebelum itu tiba-tiba ponselnya berdering dan nama Yifei tertera di layar.

“Yifei, ada apa?” tanyanya, terdengar suara wanita itu menangis.

“Han…bisakah kau datang?” tanya Yifei, ia menahan tangisnya saat berbicara.

“Apa yang terjadi?” tanya Lu Han khawatir, tapi Yifei tidak menjawab dan mulai menangis lagi.

Lu Han bangun dari kursinya dan berjalan ke arah pintu pesawat.

“Tuan, pesawat sebentar lagi akan berangkat” ujar seorang pramugari.

“Tolong buka pintunya” pinta Lu Han.

“Tapi…”

“Buka pintunya” potong Lu Han, pramugari itu pun membuka pintunya dan Lu Han segera keluar dari sana.

“Tuan!” panggil pramugari itu yang sama sekali tidak dihiraukan Lu Han.

Lu Han berlari keluar bandara dan segera menaiki taksi yang kosong penumpang, perasaannya tidak enak menyangkut Yifei saat ini.

***

Lu Han sudah sampai di depan rumah Yifei dan Yifan, ia menekan bel rumah tapi tak seorangpun yang membukakan pintu, ia pun mencoba membuka pintu rumah itu dan ternyata pintu itu tak terkunci.

Lu Han berjalan memasuki ruang keluarga dan melihat beberapa vas bunga pecah dan tak sengaja melihat Yifei terduduk dengan tangan berdarah dan kondisi yang berantakan.

“Yifei” panggil Lu Han khawatir.

“Apa yang terjadi?” tanya Lu Han berjalan mendekati Yifei yang terduduk lemah.

“Han…?” panggil Yifei lemah.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Lu Han lagi, ia sekarang berjongkok di depan Yifei.

“Aku…Yifan…” isak Yifei tak jelas.

“Ambil nafas pelan dan ceritakan padaku” kata Lu Han.

Yifei mengambil nafas lalu membuka mulutnya. “Tadi…Yifan baru saja..pulang…dan…”

“Siapa kau?!” teriak Yifan tiba-tiba sudah ada dalam ruangan yang sama dengan mereka.

“Han…” Yifei menggenggam erat ujung lengan sweater milik Lu Han.

“Tenang Yifei” Lu Han melepaskan genggaman Yifei dan berdiri menghadap Yifan.

“Apa yang kau lakukan padanya, Wu Yifan?” tanya Lu Han.

“Siapa kau, eoh?” seru Yifan. “Kenapa kau bisa di dalam rumahku?!” lanjutnya.

“Yifan…aku..aku yang memintanya…” jawab Yifei terbata-bata.

“Apa?!! kau berani-beraninya!” Yifan berjalan menghampiri Yifei dan menendang perutnya.

“Apa yang kau lakukan?!!!” teriak Lu Han marah, ia menarik Yifan dari dekat Yifei dan memukul tepat di wajahnya.

“Kau! tidak usah ikut campur!” Yifan balas memukul Lu Han.

“Yifan! Hentikan!” pinta Yifei, ia tidak kuat untuk berdiri dan hanya bisa menahan satu kaki Yifan.

“Dasar tidak berguna!” Yifan menendang tangan Yifei dari kakinya.

“Suami macam apa kau ini?!!” Lu Han mulai menyerang Yifan kembali.

“Apa urusanmu?! tidak usah ikut campur masalah orang lain!” Yifan berhasil memukul Lu Han dengan tinjunya.

“Kau bahkan tidak cocok disebut manusia!” teriak Lu Han, sudah berkali-kali ia jatuh tapi ia tetap berusaha membalas pukulan-pukulan Yifan.

“Tidak usah sok menjadi pahlawan di antara kami! kau bahkan bukan apa-apa!” teriak Yifan.

“Yifan…kumohon hentikan” pinta Yifei lagi.

Yifan menjambak rambut Yifei dan membantingnya ke lantai, dan suara teriakan Yifei pun terdengar memekakan telinga. Melihat itu Lu Han menarik kursi kayu di dekatnya dan membantingnya pada tubuh Yifan dan seketika itu juga Yifan terjatuh pingsan.

Lu Han segera menghampiri Yifei yang terbaring lemah di lantai.

“Yifei, kau tidak apa-apa?” tanya Lu Han, ia membantu Yifei untuk duduk.

“Aku…tidak apa-apa” jawabnya lemah.

“Ayo kita pergi dari sini” ajak Lu Han tapi Yifei tiba-tiba menggenggam ujung sweater Lu Han lagi.

“Tidak Han” tolaknya.

“Kenapa?” tanya Lu Han bingung.

“Aku tidak bisa…meninggalkannya” jawab Yifei, membuat kedua alis Lu Han saling bertaut.

“Yifei…tapi kenapa? dia memukulimu!”

Yifei menggeleng pelan. “Dia suamiku, Han…aku tidak bisa meninggalkannya” jelas Yifei.

“Kau bisa bercerai dengannya kan? ayo kita pergi dari sini” ajak Lu Han lagi, tapi Yifei tetap menarik ujung lengan sweaternya.

Lu Han akhirnya menatap kedua mata Yifei. “Aku..mencintainya” ucap Yifei pelan yang suskses menampar Lu Han keras-keras.

“Tapi..tapi..”

“Maaf Han, sepertinya aku tidak bisa bicara denganmu hari ini” ucap Yi Fei dengan senyum simpul dan mata yang berkaca-kaca.

***

Lu Han kembali ke rumahnya dan tidak berniat lagi untuk pergi ke China setelah melihat kejadian di rumah Yifei tadi.

Sebenarnya apa yang terjadi? bukankah sebelumnya mereka selalu terlihat bahagia bersama?

Lu Han membuka kotak obat-obatannya dan mengambil antiseptik dan beberapa plaster untuk luka-lukanya.

Sebuah tekat muncul di kepalanya, ia akan melindungi Yifei.

***

Lu Han menghubungi ponsel Yifei, ia berharap wanita itu baik-baik saja, namun sayangnya tidak ada tanda-tanda Yifei akan mengangkat telepon.

Perasaan cemas mulai menghantui Lu Han, ia takut hal yang lebih buruk dari kemarin menimpa Yifei.

Tiba-tiba suara bel rumah membuyarkan lamunan Lu Han, saat ia melihat wanita itu di layar cctv ia segera membuka pintu untuknya.

“Yifei, kau tidak apa-apa?” tanya Lu Han.

Yifei tersenyum lembut lalu mengangguk pelan.

“Ayo masuk” ajak Lu Han.

***

Lu Han membuatkan Yifei segelas teh hangat, ia lalu duduk di depan Yifei.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Lu Han.

Yifei menaruh gelasnya di atas meja lalu tersenyum pada Lu Han. “Han, yang kemarin anggap saja tidak pernah terjadi” ucapnya pelan.

Kedua alis Lu Han bertaut. “Apa maksudmu? bagaimana bisa kau memintaku melupakan apa yang ia perbuat padamu” protes Lu Han.

“Kemarin aku ingin mengobrol santai denganmu” lanjut Yifei.

Lu Han memberanikan diri menggenggam tangan Yifei. “Katakan yang sebenarnya padaku” pintanya.

“Han…tidak ada yang terjadi” elak Yifei, ia melepaskan genggaman Lu Han.

“Kumohon jangan berbohong padaku, aku…aku sahabatmu Yifei” pinta Lu Han lagi.

Yifei tak berani menatap kedua mata Lu Han.

“Sebaiknya aku pulang ke rumah, Yifan akan khawatir jika aku belum pulang” Yifei tiba-tiba bangun dari duduknya.

“Yifei ceritakan yang sebenarnya” Lu Han tidak bosan meminta Yifei menjelaskan semua masalah yang terjadi.

Yifei menangkupkan kedua tangannya pada wajah Lu Han. “Jujur saja, Han…kau adalah sumber kekuatanku, kau sahabat yang lebih dari harapanku” kata Yifei, lalu segera meninggalkan Lu Han.

Lu Han hanya bisa menatap kepergian Yifei dengan diam.

***

Lu Han menjatuhkan diri ke atas ranjang sambil terus memperhatikan langit-langit kamarnya. Perasaannya masih tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sedih? tentu saja. Kecewa? ya. Hancur? sepertinya itulah yang cocok dengannya sekarang.

Bahkan Yifei tidak bisa mempercayakan masalahnya pada Lu Han, ia tidak menceritakannya dengan berterus terang, tentu saja Lu Han merasa kecewa, walau dia hanya sahabat Yifei, tapi sebagai sahabat ia berhak utntuk tau masalah perempuan itu bukan?

***

Lu Han menatap presentasi di depannya dengan tatapan kosong, ia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.

“Tuan Lu” panggil sekertarisnya, namun Lu Han masih sibuk dengan lamunannya.

“Tuan Lu” panggil sekertarinya lagi, tapi Lu Han masih belum sadar.

“Tuan Lu” sekertarisnya menggoyangkan tangan Lu Han, dan sukses membuat Lu Han bangun dari lamunannya.

“Ya?” tanya Lu Han.

“Presentasinya sudah selesai” bisik sekertarisnya.

Lu Han menoleh ke arah layar yang sekarang sudah kosong.

“Tolong berikan laporannya setelah ini padaku” kata Lu Han akhirnya.

Setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Lu Han memejamkan matanya dan bersandar pada punggung kursi.

Bahkan masalah ini dapat mempengaruhi pekerjaannya.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, melihat fotonya dan Yifei saat kelulusan SMA.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

***

Hari sudah gelap dan cuaca di luar semakin dingin, Lu Han keluar dari gedung perusahaan dan berjalan ke arah tempat mobilnnya terparkir. Ia merapatkan mantelnya karena hembusan angin bulan November yang dingin.

Sampai di dalam mobil ia segera menyalakan mesin dan pemanasnya.

Saat ia hampir sampai, ia melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan apartemennya, dan seorang wanita keluar dari sana.

Lu Han menghentikan mobilnya tepat di belakang taksi itu dan segera keluar dari mobil, ia bisa melihat wanita itu menekan bel apartemennya degan badan yang terlihat rapuh.

“Yifei?” panggil Lu Han, dan wanita itu pun menoleh.

Dia memang Yifei, namun kondisinya itu hampir membuat Lu Han tidak mengenalnya.

“Apa yang terjadi padamu?!” Lu Han mulai panik, ia segera membawa Yifei masuk ke dalam.

Setelah Yifei didudukkan di sofa, Lu Han segera mengambil selilmut untuk badan Yifei yang menggigil.

Yifei tersenyum lemah. “Han, bisakah aku beristirahat sebentar di sini?” tanyanya.

“Tentu saja” jawab Lu Han.

Yifei tersenyum lagi lalu memejamkan kedua matanya.

“Yifei…apa yang terjadi padamu? apa yang dia lakukan padamu?” tanya Lu Han.

Yifei menggeleng pelan. “Yifan tidak melakukan apa-apa” jawabnya.

Lu Han meringis, Yifei masih tidak mau memberitau semuanya pada Lu Han, dan sekarang Lu Han harus melihat Yifei dengan badan penuh lebam.

“Kumohon…beritau aku” Lu Han menatap kedua mata Yifei lekat-lekat.

“Ini hanya kecelakaan biasa, Han” elak Yifei.

“Sampai kapan kau akan menyembunyikan semuanya dariku?” tanya Lu Han kecewa.

Yifei balas menatapnya. “Han, kumohon anggap ini hanya kecelakaan” ucapnya akhirnya.

“Tapi sampai kapan? sampai kapan aku harus menganggap semua ini hanya kecelakaan?” kata Lu Han getir.

Yifei terpaku menatap ekspressi Lu Han saat ini, pria itu terlihat sangat menderita.

“Maafkan aku, Han” kata Yifei hampir berbisik.

***

Lu Han membiarkan Yifei tidur di kamarnya, sedangkan dia tidur di sofa di ruang tengah.

Ia tidak bisa tidur, itu semua karena otaknya sibuk memikirkan tindakan apa yang harus ia lakukan untuk membantu wanita itu, masalahnya Yifei belum mempercayakan masalahnya itu pada Lu Han, bagaimana sekarang ia akan bertindak?

Anak perempuan itu duduk sambil memperhatikan anak laki-laki itu mengobati lukanya.

“Sudah selesai” ujar anak laki-laki itu dengan senyum lebarnya.

“Terimakasih Han” kata anak perempuan itu.

“Lain kali, kau harus lebih berhati-hati” anak laki-laki itu membereskan kotak obat-obatannya.

“Han…” panggil anak perempuan itu.

“Hmm?” anak laki-laki itu menoleh, menunggu kata-kata yang keluar dari anak perempuan itu.

“Karena kita sahabat, kita harus saling menjaga satu sama lain. Jangan biarkan aku dalam masalah atau terluka” kata anak perempuan itu.

Anak laki-laki itu tersenyum kecewa. “Tentu saja” jawabnya.

“Bagaimana sekarang aku bisa menjagamu?” tanya Lu Han pada dirinya sendiri.

***

Sinar mentari yang masuk dari celah-celah jendela berhasil membangunkan Lu Han.

Ia terbangun dengan punggung yang terasa pegal, dan ia mengingat kejadian tadi malam, dimana ia bertemu dengan Yifei dan Yifei beristirahat di rumahnya.

Saat ia berjalan ke arah kamarnya, ia menemukan sebuah note tertempel di depan pintu.

Maaf tidak bisa berpamitan langsung, aku harus pulang. Yifan pasti akan khawatir

-Yifei-

Lu Han melepaskan note itu dari pintu dan membuangnya, ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Memangnya pria bernama Yifan itu akan benar-benar mengkhawatirkannya? setelah semua yang dilakukannya pada Yifei? itu tidak mungkin terjadi.

Kenapa Yifei bisa tetap menyayangi Yifan sampai sekarang?

Lu Han akhirnya bersiap-siap untuk bekerja walau ia sedang tak berniat untuk pergi.

***

Di tengah jalan Lu Han melihat pria itu, Wu Yifan.

Ia sedang bersama seorang wanita yang berjalan lengket dengannya, yang lebih buruknya, wanita itu bukanlah Yifei. Mengetahui itu emosi Lu Han memuncak, ia menghentikan mobilnya sembarangan dan segera keluar dari mobil.

Ia berjalan cepat ke arah Yifan dan tiba-tiba menghajar tepat di wajahnya.

Semua orang menatapnya terkejut, begitu juga Yifan yang baru saja dihajar oleh Lu Han, sedangkan wanita yang bersama Yifan tadi hanya bisa berteriak histeris.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak Yifan akhirnya.

“Seharusnya aku yang bertanya!!” balas Lu Han ia menarik kerah kemeja Yifan dan memukul kembali wajahnya.

“Itu bukan urusanmu” Mereka pun mulai berkelahi di sana, berkelahi di depan banyak pasang mata.

“Dasar bajingan!” teriak Lu Han, menendang perut Yifan.

Yifan terjatuh sambil memegangi perutnya. “Kau menyukai Yifei kan?! ambil saja perempuan itu! aku tidak membutuhkannya lagi!” teriak Yifan, ia bangkit berdiri.

Kata-kata Yifan itu sukses membuat emosi Lu Han terpancing kembali.

“Apa kau bilang?! dasar bajingan!” Lu Han kembali melayangkan pukulannya.

“Aku memang tidak memerlukannya lagi! dia perempuan tidak berguna!” teriak Yifan.

***

Lu Han pulang ke apartemennya dengan wajah babak belur karena perkelahiannya dengan Yifan tadi. Saat itu entah dari mana polisi datang membawa Lu Han dan Yifan ke kantor polisi untuk mengintrogasi mereka berdua, namun akhirnya mereka dibiarkan untuk pulang.

Lu Han duduk sambil mengobati luka-lukanya di depan cermin, sesekali ia meringis kesakitan saat obat mengenai beberapa lebam di wajahnya.

Setelah menangani luka-lukanya, ia segera menghubungi sekertarisnya untuk memberitau ia tidak masuk kerja hari ini.

Tak berapa lami ponselnya berbunyi dan nama Yifei tertera di layarnya.

“Han” seru Yifei dari seberang sana.

“Apa yang kau lakukan pada Yifan?” lanjut Yifei.

Lu Han tidak menjawab.

“Han” panggil Yifei lagi.

“Yifei, dia selingkuh darimu!” kata Lu Han.

“Itu tidak penting Han, seharusnya kau tidak melakukannya” balas Yifei.

“Apa kau gila?! dia selingkuh dengan wanita lain dan kau masih bisa membelanya?!” teriak Lu Han frustasi.

“Han, jangan membuang waktumu dengan ini semua” kata Yifei.

“Yifei! sadarlah! dia memiliki hubungan dengan…”

“Dia berhak melakukannya!” potong Yifei, lalu terdengar suara tangisnya pecah.

“Yifei…apa…apa maksudmu?” tanya Lu Han terbata-bata.

“Dia…” Yifei mengambil nafas. “Dia memang berhak melakukanya, Han” ujarnya disela tangis.

“Apa kau tidak mengerti arti kata selingkuh?!”

“Aku tau!aku tau!” teriak Yifei.

“Lalu kenapa kau membiarkannya melakukan itu?” tanya Lu Han.

“Aku mencintainya Han…selain itu dia memang berhak untuk melakukan itu padaku”

Lu Han tidak percaya dengan kata-kata Yifei barusan, apa Yifei sudah gila? mana ada seorang wanita membiarkan pria yang dicintainya selingkuh darinya?

“Kita harus bertemu sekarang” kata Lu Han akhirnya.

“Aku tidak bisa, Han. Aku…”

“Aku akan menjemputmu” Lu Han memutuskan sambungan sepihak.

***

Lu Han menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Yifei, ia segera mengirimkan pesan agar Yifei keluar dari rumah, dan tak berapa lama wanita itu keluar dari sana.

“Dimana pria itu?” tanya Lu Han.

“Han…wajahmu” Yifei memandang wajah Lu Han yang babak belur.

“Jangan pedulikan wajahku, dimana pria itu?” tanya Lu Han lagi.

“Ia pergi setelah aku mengobati lukanya” jawab Yifei.

“Masuklah ke dalam mobil” kata Lu Han.

“Bagaimana kalau Yifan pulang nanti?” tanya Yifei.

“Aku akan mengurusnya, sekarang masuk ke dalam mobil” kata Lu Han tak sabar.

***

Mereka sampai di sebuah taman dekat dengan apartemen Lu Han.

Lu Han dan Yifei duduk di salah bangku taman.

“Jelaskan semuanya padaku” tuntut Lu Han.

“Han…aku…” Yifei menggeleng, ia tak dapat mengatakan apapun.

“Katakan padaku Yifei!” teriak Lu Han.

Yifei menatap Lu Han kaget, ia tak pernah melihat Lu Han seperti ini, ia tampak berantakan dan frustasi.

“Han…aku tak bisa mengatakannya” tangis Yifei pecah.

Dan akhirnya Lu Han kembali ke apartemennya dengan tangan kosong, Yifei sampai saat ini tidak mau mengatakan apapun tentang masalahnya pada Lu Han.

***

Lu Han duduk di balkon sambil menatap pemandangan di bawah, jalanan padat dengan kendaraan yang lalu-lalang.

Kali ini ia menonaktifkan ponselnya, ia tak mau diganggu oleh siapapun.

“Kenapa kau tidak menerimanya?” tanya anak laki-laki itu, berusaha mempertahankan nada datarnya.

Anak perempuan itu menoleh sekilas. “Aku tidak menyukainya” jawabnya.

Dan anak laki-laki itu diam-diam bernafas lega, ia lalu mengumpulkan keberaniannya. “Atau jangan-jangan kau sudah menyukai orang lain?” kata Lu Han ingin tau.

Anak peremupan itu menatapnya dengan senyuman. “Ya” jawabnya singkat.

Lu Han kembali meneguk habis satu gelas vodka, ia tertawa pelan, andai saja ia menyampaikan perasaannya sejak dulu, mungkin Yifei tak akan bernasib seperti ini.

***

Lu Han terbangun dari tidurnya, ia masih berada di balkon apartemen sedangkan hari sudah mulai gelap dan hujan turun dengan sangat deras. Saat ia bangun, kepalanya terasa sangat pusing karena minum vodka tadi.

Ia masuk ke dalam apartemennya dan mengambil air mineral, dan saat itu juga terdengar seseorang menekan bel apartemennya.

Lu Han melihat dari cctv, itu sekertarisnya di kantor, Lian Zhu.

Ia segera membukakan pintu untuk wanita itu.

“Tuan Lu…” Lian Zu berhenti saat melihat kondisi Lu Han yang berbeda jauh dari biasanya, rambutnya acak-acakan, ia hanya menggunakan t-shirt putih dan celana pendek berwarna abu-abu, dan terlebih lagi kantung mata hitam di bawah kedua matanya.

“Masuklah” kata Lu Han pelan.

Lian Zhu duduk di salah satu sofa.

“Aku akan membuatkanmu teh” kata Lu Han, berjalan ke arah dapur.

“Tidak perlu repot-repot Tuan, saya tidak berencana untuk tinggal lama” kata Lian Zhu buru-buru.

“Saya hanya ingin memberikan dokumen-dokumen yang harus ditandatangani oleh anda karena besok dokumen ini harus sudah diberikan kepada Presedir” jelas Lian Zhu sambil mengeluarkan beberapa dokumen yang ia maksud dari tas kerjanya.

Tiba-tiba suara dering bel apartemen mengalihkan perhatian kedua orang itu.

“Tunggu sebentar” kata Lu Han, ia berjalan mendekati layar cctv. Dan saat itu juga ia bisa melihat wajah Yifei di sana.

Lu Han buru-buru membukakan pintu untuk wanita itu, Lu Han terperangah saat melihat kondisi Yifei, wanita itu basah kuyup dengan kulit yang terlihat sangat pucat.

“Yifei, ada apa denganmu?!” tanya Lu Han panik.

“Han…” Yifei menatap pria itu dengan air mata yang mengalir di pipinya.

“Katakan padaku!” seru Lu Han, ia sudah lelah menghadapi Yifei yang tak mau membuka mulut sedikitpun tentang masalahnya itu.

“Han…bisakah aku menumpang disini lagi?” tanya Yifei pelan.

“Ada apa sebenarnya? kenapa kau keluar malam-malam begini? apalagi kau kehujanan seperti ini?” tanya Lu Han lagi.

“Yifan sedang tidak ingin melihatku, jadi aku harus keluar dari sana untuk sementara. Maafkan aku Han, aku merepotkanmu lagi” jelas Yifei sambil menggigil.

Emosi Lu Han memuncak. “Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua?!!”

Yifei menatap Lu Han kaget, begitu juga Lian Zhu yang berdiri tidak jauh dari sana, baru kali ini ia melihat atasannya berteriak seperti itu.

“Maafkan aku Han…” isak Yifei.

“Kenapa kau tak mempercayaiku?!!” teriak Lu Han frustasi.

“Apa yang salah denganku?!!” teriaknya lagi.

“Han…kau…kau tidak melakukan kesalahan” kata Yifei, air mata terus mengalir.

“Kalau begitu ceritakan padaku! kenapa dia melakukan ini semua padamu!!!”

Yifei mencoba menghentikan tangisnya, dan Lu Han masih menatap tajam ke arah Yifei, nafasnya sudah tak beraturan lagi.

“Han…bisakah kita bicarakan masalah ini lain kali saja?” tanya Yifei, masih berusaha menghentikan tangisnya.

“Kenapa?!” tanya Lu Han dengan nada sarkatis.

“Kumohon Han…besok pagi aku akan menceritakan segalanya padamu…kumohon jangan saat ini” pinta Yifei.

Bagaimana bisa ia bersabar lagi? Lu Han membuang muka dan tak sengaja melihat Lian Zhu berdiri tak jauh dari mereka.

“Ehmm…maaf Tuan Lu, saya akan kembali besok untuk mengambil dokumennya, selamat malam” wanita itu segera keluar dari sana.

Lu Han menelan ludah. “Terserah padamu” katanya pada Yifei.

***

Lu Han berbaring di sofa, ia tak bisa tidur malam itu. Sedangkan Yifei juga masih terjaga, sesekali ia masih menangis tanpa suara.

Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lu Han yang memikirkan masalah Yifei, dan Yifei yang memikirkan tentang Yifan yang sekarang sangat membencinya.

“Yifei…kenapa kau menangis?” tanya anak laki-laki itu saat melihat anak perempuan itu duduk di ujung taman sambil menangis.

Anak perempuan itu mengeleng pelan disela-sela tangisnya.

“Yifei, katakan saja padaku. Bukankah kita sahabat?” kata anak laki-laki itu, ia duduk di sebelah anak perempuan itu.

Tiba-tiba anak perempuan itu memeluknya. “Han…Ayahku meninggal” isaknya.

Anak lelaki itu terpaku mendengarnya, tapi tak lama ia membalas pelukan anak perempuan itu dan sesekali mengelus punggungnya.

“Han…Ayah sudah berjanji akan sembuh dan datang ke acara kelulusanku” isak anak perempuan itu lagi.

“…kau harus bersabar” kata anak lelaki itu pelan.

“Ia meninggalkanku, Han! ia meninggalkan aku dan Ibu di sini” lanjut anak perempuan itu.

“Yifei…bukankah Ayahmu pergi ke tempat yang lebih baik? seharusnya kau tidak menangis seperti ini, Ayahmu akan sedih di atas sana” kata anak lelaki itu.

“Han…” anak perempuan itu terus menangis.

Namun setelah satu jam menangis tanpa henti, ia akhirnya lelah juga.

Anak laki-laki itu masih memeluknya, begitu juga dia. “Yifei, mulai saat ini sampai seterusnya jangan menyembunyikan masalahmu padaku” kata anak laki-laki itu tiba-tiba.

“Aku pasti akan berusaha membantumu” lanjutnya.

Anak perempuan itu melepaskan pelukannya dan menatap anak laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca.

“Kau harus selalu menceritakan masalahmu, ya?” kata anak laki-laki itu lagi.

Dan akhirnya anak perempuan itu mengangguk pelan.

“Kau harus berjanji” anak laki-laki itu mengacungkan jari kelingkingnya.

“Aku berjanji” jawab anak perempuan itu, lalu merekapun menautkan jari kelingking masing-masing.

Lu Han menatap langit-langit ruang TV, andai saja Yifei masih mengingat janjinya itu, masalah akan selesai dengan lebih mudah.

Lu Han menghela nafas panjang, lalu memejamkan kedua matanya, berusaha menyingkirkan semua masalah itu dan tidur.

***

Yifei bangun dari tidurnya, ia duduk di ujung ranjang sebentar, lalu segera bangun dari sana.

Di luar kamar ia menemukan Lu Han yang masih tertidur di sofa, dan rasa bersalah mulai menyerangnya. Betapa pria di depannya itu peduli…

“Maafkan aku Han…” ucapnya pelan, dan tak lama air mata mulai mengalir di pipi Yifei untuk kesekian kalinya.

Karena suara isakan Yifei, Lu Han pun terbangun.

“Yifei…?” Lu Han terlihat bingung mendapati Yifei menangis di depannya.

Yifei buru-buru menghapus air matanya. “Maaf, kau jadi terbangun” ucapnya.

Lu Han bangun dari sofa. “Duduklah” kata Lu Han.

“Tunggu sebentar” katanya lagi lalu meninggalkan Yifei di sana.

Setelah mencuci muka dan mengambil ai mineral di dapur, ia kembali menemui Yifei.

“Minumlah dulu” Lu Han menyodorkan segelas air mineral pada Yifei, dan wanita itu pun meminumnya.

“Sekarang ceritakan segalanya padaku” tuntut Lu Han, ia duduk di seberang meja.

Yifei terdiam, sebenarnya ia tak pernah ingin mengatakan semua ini pada siapapun, tak terkecuali Lu Han, sahabat terdekatnya.

“Kau sudah berjanji, Yifei” kata Lu Han, tatapannya memohon.

“Han…Aku… aku tak bisa memberikannya keturunan…karena itu ia membenciku” jelas Yifei sambil menahan air matanya.

Lu Han membeku mendengar pengakuan Yifei, sedangkan Yifei menangis lagi, ia tak kuat membendung air matanya.

“Yifei…”akhirnya Lu Han angkat bicara. “Bukankah kau bisa disembuhkan?” tanya Lu Han akhirnya.

Yifei menggeleng. “Saat itu kami baru mengetahui…kalau…kalau aku terkena kanker rahim, dan rahimku harus segera diangkat”

“Awalnya Yifan berada di sampingku, ia mencoba menguatkan diriku selain menguatkan perasaannya juga, tapi tidak bisa…anak adalah keinginan terbesarnya saat menikah denganku”

“Tapi jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan melakukan semua ini padamu!” kata Lu Han tak terima.

“Han…yang salah itu aku” kata Yifei.

“Dan karena itu, sekarang kau membiarkannya memiliki wanita lain?”

Yifei mengangguk pelan, ada jeda sedikit di antara mereka sampai akhirnya Lu Han angkat bicara lagi.

“Kalau begitu ceraikan dia, Yifei” kata Lu Han akhirnya.

Yifei menatap Lu Han terkejut. “Han…aku…aku tidak mungkin…melakukannya” kata Yifei dengan tergagap.

“Ceraikan saja dia, Yifei!” teriak Lu Han tidak sabar.

Yifei menggeleng kuat-kuat. “Aku tidak bisa, Han” katanya.

“Apa kau tidak mengerti? aku sudah terlanjur mencintainya” lanjut Yifei.

“Persetan dengan cinta! apa kau tidak sadar dia sama sekali tidak mencintaimu lagi?!!” teriak Lu Han, ia membanting semua yang ada di depannya.

“Tapi aku membutuhkannya” elak Yifei.

Lu Han mengacak rambutnya frustasi. “Apa kau sudah gila?! apa kau tidak bisa berpikir dengan benar?!”

“Bukankah cinta memang membutakan akal sehat” kata Yifei.

Lu Han menjatuhkan dirinya ke atas sofa, ia mengusap wajahnya.

***

Lu Han masih duduk di sofa itu, sedangkan Yifei sudah kembali ke rumahnya.

Makin lama Lu Han tersadar, seharusnya ia memang tidak melakukan ini semua, semua ini hanya membuatnya terbebani dan menderita. Tiba-tiba Lu Han tertawa sinis. “Kau memang benar Yifei, cinta membutakan akal sehat, tapi cintaku berbeda, aku menggunakan keduanya dengan seimbang” kata Lu Han, ia bangun dari sofa.

Dengan tekat bulat ia mengemasi barang-barangnya, lalu menghubungi sekertarisnya.

“Nona Lian, tolong pesankan satu tiket pesawat ke Beijing sekarang juga” katanya saat Lian Zhu mengangkat telepon.

“Tiket pesawat?” Lian Zhu terdengar bingung, kenapa mendadak sekali?

“Ya, aku akan pergi dari sini. Selain itu aku sudah menandatangani dokumennya, kau bisa mengambilnya sekaligus memberikan tiket pesawat padaku” jelas Lu Han.

“Ba..baik” jawab Lian Zhu.

Lu Han mematikan ponselnya, ia melemparnya ke atas ranjang, lalu tak lama ia ikut menjatuhkan diri ke atas ranjangnya.

Ia menatap langit-langit kamar dan tertawa mengejek diri sendiri.

“Kau menyedihkan Lu Han” katanya pada diri sendiri sambil menutup kedua matanya dengan satu tangannya.

“Kau benar-benar menyedihkan” ujarnya lagi.

***

Seharusnya ia melakukan ini sejak lama, seharusnya ia pergi dari sini sejak awal.

“Maaf sudah merepotkanmu selama ini” kata Lu Han pada sekertarisnya itu.

“Anda sama sekali tidak merepotkan” balasnya. “Jaga diri anda baik-baik Tuan Lu” pesannya lalu memberi hormat dan pergi.

Lu Han memandang kesekelilingnya, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, sejujurnya ia berharap Yifei akan mengejarnya dan memintanya untuk tetap tinggal, tapi jika dipikir-pikir itu tidak akan mungkin terjadi.

Lu Han mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi Yifei untuk terakhir kalinya.

“Han?” terdengar suara wanita itu. Lu Han menghela nafas pelan, ia pasti akan merindukan suara ini.

“Selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik” ucap Lu Han.

“Apa maksudmu?” tanya Yifei.

“Jangan lupa untuk bersenang-senang, dan berhentilah menyalahkan diri atas kesalahan yang tidak pernah kau lakukan” pesan Lu Han.

“Han! apa sebenarnya maksudmu?!” tanya Yifei, ia mulai merasa khawatir.

“Selamat tinggal” ucap Lu Han untuk kedua kalinya, ia lalu mematikan ponselnya.

Selamat tinggal Taiwan, selamat tinggal semua kenangan yang pernah ada, selamat tinggal semuanya…

Ia sudah tidak kuat lagi menjadi pahlawan untuk wanita itu. Wanita yang menjadi cinta pertamanya, wanita yang sampai sekarang masih berusaha untuk dilupakannya, wanita yang memegang teguh cintanya, Fan Yifei. Karena wanita itu memang sejak awal menolak pertolongannya.

#END#

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s