Melted

Melted

Rating: PG
Author: Ame
Genre: Angst, Family
Backsound Recomended: Akdong Musician – Melted
Casts:
Angela Tuan (OC)
Mark Tuan (GOT7)

Hari itu tak biasanya Angela dan Mark menggunakan pakaian serba hitam, ada yang salah dengan hari ini.
Mereka berdampingan dengan kedua mata Angela yang terlihat habis menitikkan air mata dan sesekali Mark mengelus pelan kepala adik perempuannya itu.
“Kami turut berduka cita” ujar salah satu kerabatnya sambil menepuk bahu Mark pelan.
“Terimakasih” jawab Mark dengan senyum yang jelas dipaksakan.
Satu persatu tamu pulang dari sana dan akhirnya tinggal mereka berdua yang berdiri di sana.
“Ayo kita pulang” akhirnya Mark membuka suara.
Tapi Angela menggeleng pelan, wajahnya tertunduk menahan air mata yang akan jatuh lagi.
“Mereka tidak akan kembali walaupun kita tinggal disini selamanya” lanjut Mark, ia sudah tidak ingin berada di sana terlalu lama.
“Gege…” Angela mulai menangis lagi, melihat itu Mark hanya bisa menarik tubuh adiknya itu ke dalam pelukannya, mencoba untuk menenangkan Angela.
***
Mereka sudah sampai di depan rumah tetapi pemandangan di sana terlihat janggal, beberapa truk pindah rumah memarkir di depan rumah mereka, beberapa lelaki dengan seragam yang sama memasukkan beberapa interior ke dalam rumah.
“Ada apa ini Ge?” tanya Angela.
“Aku tidak tau, tunggu sebentar” Mark menghampiri salah satu pekerja.
“Ada apa ini Tuan?” tanya Mark.
“Kami memindahkan barang ke rumah ini, ada satu keluarga yang akan pindah ke sini” jelas lelaki itu lalu kembali bekerja.
“Angela, ayo” Mark menggenggam tangan adiknya, membawanya ke dalam rumah.
“Halo Mark” sapa seorang laki-laki paruh baya, yang Mark tau ia adalah salah satu kerabatnya.
“Paman, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa pekerja tadi mengatakan padaku kalau ada keluarga yang pindah ke rumah ini?” tanya Mark.
“Oh…kau sudah tau rupanya, keluargaku akan pindah kesini” jawab laki-laki itu.
“Dan ini barang-barang kalian, kalian keluarlah dari rumah ini sekarang” lanjut laki-laki itu.
“Apa maksudmu Paman? Ini rumah kami” kata Mark.
“Sudah tidak lagi, orang tua kalian sudah mati jadi kami bisa mengambil rumah ini”
“Tapi rumah ini milik kami” seru Mark.
“Itu dulu, sekarang aku sudah mengambil rumah ini”
Mark tiba-tiba menarik kerah baju laki-laki itu, memukul tepat di wajahnya dan datanglah dua orang pria dengan pakaian rapi menarik Mark dari laki-laki itu, menghajar balik Mark.
“Hentikan!” teriak Angela berusaha melepaskan tangan kedua lelaki itu dari Mark.
“Kalian hentikan!!” teriak Angela lagi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
“Keluarkan mereka” perintah laki-laki tadi.
Kedua pria tadi menarik Mark dan Angela keluar, tak lupa ia melemparkan dua koper berisi pakaian mereka dan gerbang pun segera ditutup.
“Buka gerbangnya! ini rumah kami!” teriak Mark sambil memukul-mukul gerbang itu, walau begitu tak ada reaksi dari mereka.
Angela menangis dan Mark tetap berteriak memanggil laki-laki tadi untuk membuka gerbangnya.
“Gege…mereka…mereka tidak akan membukakan pintu untuk kita” tangis Angela.
Mark akhirnya menyerah tenggorokannya sudah lelah karena berteriak, ia pun berjalan menghampiri adiknya yang sudah terduduk di pinggir jalan.
***
Mereka berjalan memasuki sebuah gedung besar di tengah-tengah kota, tapi belum sampai ke dalam mereka sudah di usir oleh keamanan di sana padahal mereka mengenal Mark dengan baik.
“Apa kalian sudah tidak mengenalku lagi?” tanya Mark pada mereka.
“Maaf tapi kami sudah di tugaskan untuk menghalangi kalian berdua masuk” jelas salah satu keamanan.
“Tapi…aku…aku anak pemilik perusahaan ini! kalian tau itu!” seru Mark.
“Pemilik perusahaan sudah berganti menjadi Tuan Hua, ia sendiri yang memerintah kami untuk menghalangi kalian”
“Tu..tuan Hua?” Angela melirik Kakaknya.
“Lebih baik kalian keluar dari sini sebelum Tuan datang, kami tidak ingin ia memerintah kami untuk menyakiti kalian”
Dengan berat hati mereka berdua akhirnya keluar dari sana menggeret koper masing-masing.
“Apa yang harus kita lakukan Gege? rumah, perusahaan semuanya sudah bukan milik kita, dimana kita akan tinggal?”
“Aku…tidak tau” Mark mengutuk dirinnya dalam hati, kenapa ia bisa jadi selemah ini.
“Kita harus mencari pekerjaan, mau tak mau kita harus bekerja”
***
Sudah kesekian kalinya mereka berdua harus keluar dengan tangan kosong, belum ada yang menerima mereka.
“Gege…aku pikir kita tidak akan mungkin mendapatkan pekerjaan hari ini” keluh Angela.
“Kita tidak boleh menyerah sekarang, aku tidak ingin nanti malam kau harus tidur di jalan, tidak aman bagimu” jawab Mark.
Angela menghela nafas pelan. “Kenapa ini harus terjadi pada kita Gege? Papa dan Mama meninggal, rumah kita diambil, perusahaan Papa juga, dan sekarang kita tidak dapat pekerjaan untuk hidup” tangis Angela pecah.
Mark membuka mulutnya tapi tak ada satupun kata yang keluar dari sana, ia pun kembali memeluk adiknya itu.
“Memangnya apa salah kita Gege?” tangis Angela.
“Gege mohon bersabarlah sedikit” ucap Mark lembut.
“Aku…aku…” Angela berusaha menghentikan tangisannya.
“Baiklah Gege…”
***
Malam pun tiba, hari ini mereka tak mendapat pekerjaan satupun walau sudah berusaha semaksimal mungkin.
“Maaf, Gege belum mendapatkan pekerjaan” kata Mark, mereka duduk di halte bus.
“Tidak apa-apa” jawab Angela.
“Tapi sekarang apa yang harus kita lakukan Gege? Dimana kita harus tidur?” tanya Angela.
Tiba-tiba suara bel gereja berdentang keras.
“Kita mungin bisa beristirahat di sana” kata Mark.
“Aku tidak berpikir akan di terima di sana Gege” ucap Angela ragu.
“Kita belum mencobanya kan, ayo” Mark membawa Angela ke dalam gereja.
Gereja itu seperti kebanyakan gereja pada umunya, megah dan terkesan tua dengan lonceng besar yang terpasang di ujung gereja.
Tapi saat mereka memasuki gereja itu tiba-tiba Angela terjatuh dengan kedua tangan meremas dadanya.
“Angela ada apa?” tanya Mark panik.
“…aku…tidak…bisa berna..fas” jawab Angela terbata-bata, berusaha menghirup oksigen sebisa mungkin.
Mark melepas genggaman tangannya dari koper lalu segera menggendong tubuh adik perempuannya itu, ia tau kalau penyakit asma Angela kambuh lagi.
Untuk meminta bantuan tidak mungkin bisa di sini karena gerea sepi dari siapapun, jadi Mark membawa Angela keluar gereja, ia mencoba menghentikan mobil untuk membawa Angela ke rumah sakit.
Tidak ada mobil yang bersedia untuk berhenti, hanya menatap mereka pun tidak ada yang sudi.
“Ge..ge…”panggil Anggela, wajahnya sudah terlihat sangat pucat.
“Tenang aku akan membawamu ke rumah sakit” kata Mark panik.
Mark berlari mencari rumah sakit terdekat, sampai akhirnya 10 menit berlalu badan Angela sudah lemas dengan wajah pucat dan butiran-butiran salju menimpanya, mereka tak kunjung tiba.
“Bertahan sebentar lagi” seru Mark, tapi Angela sudah tidak bisa menjawab, genggaman tangannya di baju Mark sudah terlepas.
“Angela” panggil Mark menunduk menatap adiknya yang tertutup matanya.
“Angela!” panggil Mark lagi tapi seperti sebelumnya tidak ada jawaban dari adik perempuannya itu.
“Buka matamu! sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit!” seru Mark.
Angela sudah terlihat tak bernafas lagi, rona merah di pipinya juga menghilang, hanya tersisa badannya yang sebentar lagi akan beristirahat di samping badan kedua orangtunya.
Sedangkan Mark hanya bisa terus berteriak memanggil namanya sambil memeluk badan adiknya erat-erat.
Tidak ada yang mempedulikan mereka, satu orangpun tidak ada yang menolong mereka.
#THE END#

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s